Sriwijaya Air Jatuh Saat Kondisi Perusahaan Sedang Sakit

Sriwijaya Air Boeing 737-500, jenis pesawat yang hilang kontak
Bagikan:

Jakarta – Kemelut di dalam perusahaan Sriwijaya Air kembali menjadi perbincangan di tengah musibah jatuhnya salah satu armada Boeing 737-500 milik maskapai asli Indonesia ini.

Sriwijaya Air diketahui pernah mengalami persoalan finansial dan sempat melakukan kerjasama operasional dengan Garuda Indonesia.

Namun kerjasama operasional atau joint operation agreement ini dihentikan pada tanggal 8 November 2019.

Pihak Garuda Indonesia menghentikan penyediaan layanan perawatan pesawat kepada Sriwijaya Air melalui Garuda Maintenance Facility (GMF), karena Sriwijaya Grup tidak membayar tunai kepada Garuda Indonesia untuk penyediaan fasilitas layanan tersebut.

Dengan demikian Sriwijaya Grup kembali harus melakukan perawatan sendiri melalui fasilitas miliknya.

Direktur Pemeliharaan & Layanan Garuda Indonesia Iwan Joeniarto mengatakan, adanya keadaan dan beberapa hal yang belum diselesaikan jadi alasan Garuda Indonesia melepas Sriwajaya Air dari grupnya.

“Kami menyesal memberi tahu Anda bahwa Sriwijaya Air sedang melanjutkan bisnis sendiri,” kata Iwan.

Pesawat Sriwijaya Hilang Kontak di Kepulauan Seribu

Pada awalnya maskapai yang didirikan oleh empat bersaudara Hendry Lie, Chandra Lie, Johannes Bundjamin dan Andy Halim itu berhasil menempatkan diri pada posisi tiga besar maskapai penerbangan di Indonesia.

Namun dalam dinamika perjalanannya banyak rintangan yang dihadapi. Sriwijaya Air dan anak perusahaannya NAM Air pernah masuk daftar maskapai penerbangan yang dilarang di Uni Eropa karena alasan keamanan pada Desember 2014.

Pengamat Penerbangan Alvin Lie pernah meminta pemerintah menghentikan operasional Sriwijaya Air sampai kemelut perusahaan dapat diselesaikan.

Menurut Alvin, laporan pada tanggal 5 November 2019 menunjukkan kondisi dapur usaha Sriwijaya Air dalam keadaan mengkhawatirkan.

“Saya menyarankan Sriwijaya Air sementara menghentikan operasi,” kata Alvin Lie.

Saat itu Sriwijaya Air hanya memiliki 12 pesawat yang bisa beroperasi. Dengan 12 pesawat itu, fasilitas perawatan yang dilakukan sendiri menjadi tidak feasible dibanding jumlah pesawat yang harus ditangani.
Padahal jasa perawatan pesawat dari GMF Aero Asia sudah dihentikan. (Mjr/IJS)

READ  Bustami Zainuddin: Jangan Kasih Ampun Pembalak Liar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *